Jumat, 30 November 2018

MUSLIM SETENGAH JADI


“i’m a moslem”

Slogan gagah nan penuh kebanggaan. “Muslim” gelar yang didapatkan sebagian orang dari orangtua dan keluarganya, sebagian lain mendapatkannya melalui proses pencarian. Sebutan “muslim” ditujukan bagi orang-orang yang telah bersyahadat, mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.  Begitu seseorang telah melafazkan dua kalimat agung ini maka resmilah sudah ia menjadi seseorang yang siap tunduk pada setiap ketentuan yang telah Allah tetapkan, serta merta setiap kewajiban dan hak sebagai seorang muslim melekat pada dirinya. Dan “mestinya” ia akan menjalani kehidupannya sebagaimana yang telah Rasulullah (Muhammad) shallallaahu ‘alaihi wa sallam contohkan.
Dulu, di zaman yang disebut zaman jahiliah yang dipenuhi orang-orang yang  bodoh karena melakukan hal-hal yang rasanya nggak masuk akal pakai banget kalau pakai logika zaman sekarang.  Orang-orang menyembah berhala yang dibuat tangannya sendiri (hebatkan? Mereka bisa membuat tuhan wkwkwk), memberi harta,  menyembelih binatang buat berhala, bahkan lebih parahnya ada yang membuat berhala dari adonan tepung buat disembah, lalu saat mereka merasa lapar mereka mengatakan “tuhan, maafkan kami sedang lapar” wkwkwk, kejam banget ya, mereka tega makan tuhannya.
Lebih parahnya lagi, buat ladies nih, kelahiran seorang perempuan ditengah keluarga adalah sebuah aib sampai Allah menceritakan dalam Al-qur’an “dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, merah padamlah wajahnya, dan dia sangat marah” (an-nahl: 16). Saat ibunya masih lemah berdarah-darah setelah melahirkan anak perempuannya, si bapak udah mondar-mandir memikirkan akan membesarkan anak ini dan menanggung rasa malu dibawah bayang-bayang penghinaan atau menguburnya dalam tanah hidup-hidup, ih ngeri kan? Dan perempuan di zaman itu nggak lebih dari sebuah barang, bisa diperjual belikan, bisa diwarisi, nggak punya hak kepemilikan, wiih dunia gelap banget buat perempuan.Banyak lagi yang parah dari zaman ini, tapi berhubung tulisan ini bukan bertujuan untuk itu maka yang mau tau lebih lanjut, read sendiri ya.
Tapi, walaupun begitu, ada hal menakjubkan dari mereka setelah islam datang, orang-orang yang telah bersyahadat seperti kita sekarang mengalami loncatan dalam hidupnya, mereka yang awalnya begitu keras dan kejam menjadi begitu lembut dan penyayang, mereka tahu kapan dan kepada siapa mereka harus keras dan kepada siapa mereka harus lembut penuh kasih sayang, mereka yang awalnya begitu menghinakan perempuan menjadi orang yang sangat menghargai perempuan, bahkan saat rasulullah ditanya olah salah seorang sahabat tentang siapakah yang paling berhak menerima baktinya, lalu Rasulullah mengatakan ibumu hingga tiga kali saat si sahabat mengajukan pertanyaan yang sama, maka orang-orang yang dulunya punya keyakinan bahwa wanita adalah lambang kehinaan dengan mudah menghapuskan keyakinan salah itu dari kepalanya. Setelah syahadat, mereka menjadi orang “baru”, dengan akhlak masya Allah; menghormati tetangga, membantu yang lemah, menghargai yang tua, menyayangi yang kecil, saling mendahulukan kepentingan sesama.
Syahadat mengangkat kualitas pribadi mereka. Menjadikan mereka muslim secara kaaffah, syahadat menjadi pintu dimulainya perbaikan dirinya, keluarga dan masyarakatnya. Hingga akhirnya mereka disebut “generasi terbaik” yang hingga kini masih hidup dalam lembaran-lembaran sejarah yang kita baca. Lantas kita? Adakah semangat perbaikan-perbaikan itu tumbuh? adakah pengaruh syahadat dalam diri kita, ataukah ia hanya menjadi sekedar hiasan bibir untuk mendapatkan gelar “muslim” tapi tak punya kualitas layaknya seorang muslim? Jika belum, cek lagi apakah sebenarnya kita sudah mengerti “makna syahadat” yang telah kita ucapkan. Jika belum, bersegeralah memiliki “kualitas itu” agar hidup tak sekedar meramaikan dunia saja.
“Jika syahadat kita hari ini adalah  ucapan yang menancap yakin dalam hati dan menjadi nyata dalam amal, maka berbahagialah, semoga kita  adalah muslim yang “kaaffah”. Tapi jika tidak, curigalah bahwa kita adalah muslim setengah jadi”-Ryu_san-