“i’m
a moslem”
Slogan
gagah nan penuh kebanggaan. “Muslim” gelar yang didapatkan sebagian orang dari
orangtua dan keluarganya, sebagian lain mendapatkannya melalui proses pencarian.
Sebutan “muslim” ditujukan bagi orang-orang yang telah bersyahadat, mengakui
bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Begitu seseorang telah melafazkan dua kalimat
agung ini maka resmilah sudah ia menjadi seseorang yang siap tunduk pada setiap
ketentuan yang telah Allah tetapkan, serta merta setiap kewajiban dan hak sebagai
seorang muslim melekat pada dirinya. Dan “mestinya” ia akan menjalani kehidupannya
sebagaimana yang telah Rasulullah (Muhammad) shallallaahu ‘alaihi wa sallam
contohkan.
Dulu,
di zaman yang disebut zaman jahiliah yang dipenuhi orang-orang yang bodoh karena melakukan hal-hal yang rasanya
nggak masuk akal pakai banget kalau pakai logika zaman sekarang. Orang-orang menyembah berhala yang dibuat
tangannya sendiri (hebatkan? Mereka bisa membuat tuhan wkwkwk), memberi
harta, menyembelih binatang buat
berhala, bahkan lebih parahnya ada yang membuat berhala dari adonan tepung buat
disembah, lalu saat mereka merasa lapar mereka mengatakan “tuhan, maafkan kami
sedang lapar” wkwkwk, kejam banget ya, mereka tega makan tuhannya.
Lebih
parahnya lagi, buat ladies nih, kelahiran seorang perempuan ditengah keluarga
adalah sebuah aib sampai Allah menceritakan dalam Al-qur’an “dan apabila
seseorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, merah
padamlah wajahnya, dan dia sangat marah” (an-nahl: 16). Saat ibunya masih lemah
berdarah-darah setelah melahirkan anak perempuannya, si bapak udah
mondar-mandir memikirkan akan membesarkan anak ini dan menanggung rasa malu dibawah
bayang-bayang penghinaan atau menguburnya dalam tanah hidup-hidup, ih ngeri
kan? Dan perempuan di zaman itu nggak lebih dari sebuah barang, bisa diperjual
belikan, bisa diwarisi, nggak punya hak kepemilikan, wiih dunia gelap banget
buat perempuan.Banyak lagi yang parah dari zaman ini, tapi berhubung tulisan
ini bukan bertujuan untuk itu maka yang mau tau lebih lanjut, read sendiri ya.
Tapi,
walaupun begitu, ada hal menakjubkan dari mereka setelah islam datang,
orang-orang yang telah bersyahadat seperti kita sekarang mengalami loncatan
dalam hidupnya, mereka yang awalnya begitu keras dan kejam menjadi begitu
lembut dan penyayang, mereka tahu kapan dan kepada siapa mereka harus keras dan
kepada siapa mereka harus lembut penuh kasih sayang, mereka yang awalnya begitu
menghinakan perempuan menjadi orang yang sangat menghargai perempuan, bahkan saat
rasulullah ditanya olah salah seorang sahabat tentang siapakah yang paling
berhak menerima baktinya, lalu Rasulullah mengatakan ibumu hingga tiga kali
saat si sahabat mengajukan pertanyaan yang sama, maka orang-orang yang dulunya
punya keyakinan bahwa wanita adalah lambang kehinaan dengan mudah menghapuskan
keyakinan salah itu dari kepalanya. Setelah syahadat, mereka menjadi orang “baru”,
dengan akhlak masya Allah; menghormati tetangga, membantu yang lemah, menghargai
yang tua, menyayangi yang kecil, saling mendahulukan kepentingan sesama.
Syahadat
mengangkat kualitas pribadi mereka. Menjadikan mereka muslim secara kaaffah,
syahadat menjadi pintu dimulainya perbaikan dirinya, keluarga dan masyarakatnya.
Hingga akhirnya mereka disebut “generasi terbaik” yang hingga kini masih hidup
dalam lembaran-lembaran sejarah yang kita baca. Lantas kita? Adakah semangat
perbaikan-perbaikan itu tumbuh? adakah pengaruh syahadat dalam diri kita,
ataukah ia hanya menjadi sekedar hiasan bibir untuk mendapatkan gelar “muslim”
tapi tak punya kualitas layaknya seorang muslim? Jika belum, cek lagi apakah
sebenarnya kita sudah mengerti “makna syahadat” yang telah kita ucapkan. Jika belum,
bersegeralah memiliki “kualitas itu” agar hidup tak sekedar meramaikan dunia
saja.
“Jika syahadat kita hari ini adalah ucapan yang menancap yakin dalam hati dan menjadi nyata dalam amal, maka berbahagialah, semoga kita adalah muslim yang “kaaffah”. Tapi jika tidak, curigalah bahwa kita adalah muslim setengah jadi”-Ryu_san-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar