Bicara tentang sosoknya
yang luar biasa dalam kesahajaan tak pernah henti-hentinya menimbulkan decak
kagum. Setiap detail hidupnya tak lepas dari sosok idola, Rasulullah saw.
Setiap gerak gerik sang nabi menjadi inspirasi untuk senantiasa bergerak.
Bahkan perkataan sang nabi tentang isyarat akan lahirnya sebaik-baik panglima
yang menaklukkan konstantinopel membentuknya menjadi pribadi luar biasa, umur
delapan tahun al-fatih kecil sudah hafal al-qur’an, umur 17 tahun menguasai 8
bahasa, dan memiliki ketertarikan luar biasa terhadap sejarah, geografi, syair,
puisi, seni, serta ilmu teknik terapan hingga pada usia ke-23 beliau
membuktikan kebenaran perkataan Rasulullah. Bukan untuk pamer, tapi semata
membuktikan, janji Allah dan Rasulnya tak pernah meleset meski zaman terus
berganti. Tujuan hidup yang begitu jelas dan bening di depan mata mebuatnya tak
rela melewatkan malam-malam tanpa tahajjud, mengadu pada Rabbnya. Bisyarah tentang
sebaik-baik panglima yang membebaskan konstantinopel menjadi harga mati
pencapaian hidupnya, ia senantiasa berlari,
berjalan bahkan merangkak demi sebuah visi. Ucapan sang guru syaikh syamsudin yang
meyakinkan al-fatih bahwa dialah
sebaik-baiknya palnglima pem bebas konstantinopel yang diisyaratkan Rasulullah menjadi
inspirasi dan motivasi tak terbatas.
Visi menurut salim a.
fillah menjadi sebuah cahaya meski disekitar kita gelap, visi yang bersinar
terang di kejauhan memberikan kita arah. Ia ada disana, bercahaya. Dan kita
akan tetap menujunya meski harus merangkak, terantuk, terjerembab dan kadang
terperosok. Lihatlah visi bekerja pada sosok Iqbal, “ bacalah seolah al-qur’an
diturunkan untukmu” ucap ayah iqbal kecil, “setelah itu Al-qur’an seperti
berbicara langsung kepadaku”. Kejelasan visi
dari sang ayah menuntun Iqbal menjadi ulama besar yang senantiasa dekat dengan
al-qur’an. Itulah kejelasan visi kawan, dan siapa lagi sang visioner terhebat
sepanjang sejarah, dengan perkataan yang menancap di hati, mendisiplinkan para
sahabat dengan shalat jama’ah, menempa jiwa mereka dengan tahajjud dan mengikat
mereka dalam ikatan aqidah yang satu (_felix S) kalau bukan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam. Bahkan puluhan
hingga puluhan tahun setelah beliau
wafat, para sahabat tetap bergerak penuh semangat, tak luntur sedikitpun seolah
Rasulullah “baru saja” saja menyampaikan kabar gembira tentang ditaklukkannya
Konstantinopel dan Persia.
Hingga pukul 01.11
malam ini, saya masih berpikir, begitu banyak sejarah membuktikan seangat
perjuangan yang berangkat dari kejelasan visi, tapi kenapa banyak orang yang
merasa bosan, bahkan ada yang mengatakan tidak ada kegiatan. Tak punya visi- kah?? Atau sejenak lupa dengan tujuan hidup,
wallaahu a’lam saya tak berhak berburuk sangka, toh saya pun kadang begitu,
hehe. Lagi-lagi mengutip untaian kalimat salim a. fillah tentang visi “bagi
mereka yang terbiasa tinggal dalam kegelapan, bahkan cahaya pun terasa
menyakitkan”, orang-orang yang tak memiliki visi (tujuan) hidup yang jelas akan
selalu fokus pada tantangan dan kesulitan, hingga muncul seribu alasan untuk
menunda dan menyerah, dan merasa sakit ketika sadar tak satu pun prestasi
tercapai karenanya. Sebaliknya, mereka yang punya kejelasan visi, tak punya
waktu sedetik pun untuk bersantai, mereka akan terus berupaya menyelesaikan satu
pekerjaan dan segera beralih ke pekerjaan lainnya. Pandanglah ke ujung jalan
kawan, dimana kau hendak berhenti?? Di sana kah?? atau tepat disini, tempat kau
memandangnya!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar