Minggu, 20 Desember 2015

SANG VISIONER


Bicara tentang sosoknya yang luar biasa dalam kesahajaan tak pernah henti-hentinya menimbulkan decak kagum. Setiap detail hidupnya tak lepas dari sosok idola, Rasulullah saw. Setiap gerak gerik sang nabi menjadi inspirasi untuk senantiasa bergerak. Bahkan perkataan sang nabi tentang isyarat akan lahirnya sebaik-baik panglima yang menaklukkan konstantinopel membentuknya menjadi pribadi luar biasa, umur delapan tahun al-fatih kecil sudah hafal al-qur’an, umur 17 tahun menguasai 8 bahasa, dan memiliki ketertarikan luar biasa terhadap sejarah, geografi, syair, puisi, seni, serta ilmu teknik terapan hingga pada usia ke-23 beliau membuktikan kebenaran perkataan Rasulullah. Bukan untuk pamer, tapi semata membuktikan, janji Allah dan Rasulnya tak pernah meleset meski zaman terus berganti. Tujuan hidup yang begitu jelas dan bening di depan mata mebuatnya tak rela melewatkan malam-malam tanpa tahajjud, mengadu pada Rabbnya. Bisyarah tentang sebaik-baik panglima yang membebaskan konstantinopel menjadi harga mati pencapaian hidupnya, ia  senantiasa berlari, berjalan bahkan merangkak demi sebuah visi. Ucapan sang guru syaikh syamsudin yang meyakinkan al-fatih  bahwa dialah sebaik-baiknya palnglima pem bebas konstantinopel yang diisyaratkan Rasulullah menjadi inspirasi dan motivasi tak terbatas.
Visi menurut salim a. fillah menjadi sebuah cahaya meski disekitar kita gelap, visi yang bersinar terang di kejauhan memberikan kita arah. Ia ada disana, bercahaya. Dan kita akan tetap menujunya meski harus merangkak, terantuk, terjerembab dan kadang terperosok. Lihatlah visi bekerja pada sosok Iqbal, “ bacalah seolah al-qur’an diturunkan untukmu” ucap ayah iqbal kecil, “setelah itu Al-qur’an seperti berbicara langsung kepadaku”. Kejelasan  visi dari sang ayah menuntun Iqbal menjadi ulama besar yang senantiasa dekat dengan al-qur’an. Itulah kejelasan visi kawan, dan siapa lagi sang visioner terhebat sepanjang sejarah, dengan perkataan yang menancap di hati, mendisiplinkan para sahabat dengan shalat jama’ah, menempa jiwa mereka dengan tahajjud dan mengikat mereka dalam ikatan aqidah yang satu (_felix S) kalau bukan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam. Bahkan puluhan hingga puluhan tahun  setelah beliau wafat, para sahabat tetap bergerak penuh semangat, tak luntur sedikitpun seolah Rasulullah “baru saja” saja menyampaikan kabar gembira tentang ditaklukkannya Konstantinopel dan Persia.
Hingga pukul 01.11 malam ini, saya masih berpikir, begitu banyak sejarah membuktikan seangat perjuangan yang berangkat dari kejelasan visi, tapi kenapa banyak orang yang merasa bosan, bahkan ada yang mengatakan tidak ada kegiatan. Tak punya visi-  kah?? Atau sejenak lupa dengan tujuan hidup, wallaahu a’lam saya tak berhak berburuk sangka, toh saya pun kadang begitu, hehe. Lagi-lagi mengutip untaian kalimat salim a. fillah tentang visi “bagi mereka yang terbiasa tinggal dalam kegelapan, bahkan cahaya pun terasa menyakitkan”, orang-orang yang tak memiliki visi (tujuan) hidup yang jelas akan selalu fokus pada tantangan dan kesulitan, hingga muncul seribu alasan untuk menunda dan menyerah, dan merasa sakit ketika sadar tak satu pun prestasi tercapai karenanya. Sebaliknya, mereka yang punya kejelasan visi, tak punya waktu sedetik pun untuk bersantai, mereka akan terus berupaya menyelesaikan satu pekerjaan dan segera beralih ke pekerjaan lainnya. Pandanglah ke ujung jalan kawan, dimana kau hendak berhenti?? Di sana kah?? atau tepat disini, tempat kau memandangnya!!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar